Baru-baru ini, dunia dakwah Islam di Indonesia kembali
gempar. Penyebabnya adalah sosok da’i yang sering muncul di televisi yang
diisukan memasang tarif setiap kali ia akan berceramah. Ia adalah Sholeh
Mahmud, atau sering disebut Ustadz Solmed. Laki-laki berusia 30 tahun itu kini
memang menjadi sorotan. Kehidupan Ustadz Solmed memang sudah selayaknya artis
papan atas. Bahkan, ketika menikah, prosesinya disiarkan di televisi swasta
secara langsung, sehingga membuat ramai publik.
Namun, kali ini kasusnya berbeda. Ustadz Solmed
dianggap matrealistis, gara-gara diduga mematok tinggi tarif ceramahnya. Yang
terbaru adalah berita miring soal rencana berdakwahnya di Hongkong.
Dikabarkan, mulanya Thariqul Jannah bermaksud membuat pengajian dengan
mendatangkan Solmed sebagai pembicara. Kesepakatan tercapai setelah calon
pengisi acara itu dihubungi. Solmed dijanjikan dua tiket pulang-pergi
Jakarta-Hong Kong, penginapan dan honor Rp6 juta. Mendadak Solmed meminta
tambahan honor menjadi Rp10 juta, tiket pesawat untuk lima orang, dan satu
kamar hotel berbintang. Ia juga meminta mobil pribadi.
Padahal, semula Solmed setuju diinapkan di rumah yang
telah disediakan para tenaga kerja Indonesia di Hong Kong itu. Soal alat
transportasi, semula Solmed sepakat naik transportasi umum. Gara-gara beban
biaya membengkak, acara pun dibatalkan. Karena batalnya acara itu lalu menjadi
berita hangat, Solmed pun angkat bicara. “Saya dakwah, saya tidak pernah minta
bayaran, tapi jangan dibisnisin,” tangkis Solmed. (Solopos,
21/08/2013)
Bahkan, yang lebih membuat heboh lagi adalah ketika
Solmed menuding bahwa EO yang menyelengarakan pengajian itu bakal mengeruk
keuntungan 150 juta rupiah dari penjualan tiket masuk yang dijual kepada
para jamaah. Oleh sebab itu, Ustad Solmet mengurungkan
niatnya untuk datang ke Hongkong, karena menganggap dakwahnya dimanfaatkan
untuk bisnis. Tentu hal ini membuat pihak EO yang menjadi panitia pengajian itu
membalas argumen sang Ustadz. Sehingga, beredar kabar bahwa Ustadz Solmed
membatalkan rencanannya untuk berdakwah di Hongkong, karena kenaikan tariff
yang diminta Ustdaz Solmed tidak disepakati oleh pihaknya.
Perang urat saraf pun tidak bisa dihindari oleh kedua
belah pihak. Bahkan, sampai pada dunia maya. Melalui akun twitter @SholehMahmoed, Solmed
bahkan berkicau, “Saya
curiga mereka bagian dari Komunis. sekarang mereka adu domba para ustadz”.
Pernyataan itu lantas membuat buruh migran yang ada di Hongkong terulut emosinya. Mereka tidak menyangka,
jika seorang Ustadz yang begitu dihormati mengatakan hal yang demikian kepada
suadara sebangsa dan seagamanya.
Melihat kicauan itu, banyak TKI Hongkong yang mengecam
penyataan Ustadz Solmed itu. Bahkan, salah satunya mengirimkan surat terbuka
bertajuk Surat Terbuka dari Hong Kong untuk Ustadz
Solmed yang
diunggahnya di lama nabawia.com. Adalah Rihanu
Alifa, TKW yang berkerja di Hongkong, yang menulis surat itu. “Mari bicara
fakta, atau diam jika hanya menimbulkan fitnah, menyakiti kami (TKI Hongkong)
yang ustadz sebut sebagai “saudara”. Sekali lagi, saya
sangat maklum jika benar ustadz memasang tarif dan meminta fasilitas ini-itu
pada panitia. Saya juga tidak menyalahkan jika ustadz (mungkin)
berbohong di media untuk menjaga reputasi ustadz. Itu manusiawi”. Itulah
petikan dari surat tersebut.
Selain itu, ia juga menuliskan biaya yang diperoleh
jika konser itu jadi dilaksanakan. “Jika tiket masuk dijual seharga 50 (Hong
Kong dollar), dan pengajian diadakan dua sesi, maka hasil dari penjualan tiket
adalah : 50 x 1000 orang = 50.000 (Hong Kong dollar). Kurs saat ini : HK$ 1 =
Rp. 1300 (kurang lebih, karena kurs naik turun). Jadi, jika ustazmenyebut angka
150 juta rupiah, maka saya katakan hal tersebut adalah AJAIB (kalau tak mau
dikatakan OMONG KOSONG)”.
Terkena Virus Sofis?
Terlepas dari siapa yang benar, namun yang pasti
peristiwa ini sangat memalukan. Sebab, jauh hubungannya antara berdakwah dengan
uang, karena pada dasarnya dakwah adalah tugas manusia untuk mengajak
saudaranya kearah yang lebih baik. Sama sekali tidak berorientasi pada materi.
Jika kita membaca sejarah filosuf masa lampau, maka kita akan menemukan
kesamaan hal dalam konteks ini. Ya, ialah para Sofis yang “menjual” ilmunya
kepada masyarakat umum.
Para Sofis meminta uang untuk pengajaran yang mereka
berikan. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan
bahwa para Sofis merupakan “pemilik warung yang menjual barang rohani”. Dan
Aristoteles mengarang buku yang berjudul Sophistikoi elenchoi (cara-cara berargumentasi kaum
Sofis); maksudnya, cara berargumentasi yang tidak sah. Antara abad ke-5 sampai
dengan 4 SM, dunia pendidikan dan pengajaran di yunani dijalankan oleh para
sofis. Mereka adalah seorang yang sangat mahir berpidato, berdebat sekaligus
mendidik pada zaman itu. Namun, keterampilan dan kepandaian mereka dalam
berdebat itu disalahgunakan untuk mencari uang. Tentu saja penulis tidak
ingin menjustifikasi bahwa da’i sekarang banyak yang bertindak ala sofis pada
masa lampau.
Umat Islamlah yang seharusnya malu, karena seorang
da’i sampai mematok tariff saat berdakwah. Bandingkan saja, misalnya, kita
mengundang Ariel NOAH untuk menyanyi di sebuah acara, pasti dia akan dibayar
tinggi. Sedangkan, seorang da’i atau bahkan kiai, ketika kita undang untuk
berceramah di tempat kita, pasti bayarannya lebih kecil dibanding artis-artis
atau para penyanyi. Padahal, mereka lah yang mengajarkan Islam kepada kita.
Inilah yang saharusnya yang harus direnungkan umat Islam.
Akan tetapi, penulis sangat menyanyangkan jika ada
seorang mubaligh meminta uang, atau bahkan memasang tariff dalam menyampaikan
dakwahnya. Apalagi, ini merupakan tugas mulia—menyebarkan dan mengajarkan islam
sebagaimana yang Nabi ajarkan—tentu sangat memalukan jika hanya mereka memina
balasan berupa materi yang jumlahnya hanya sedikit, karena balasan yang
sesunguhnya adalah dari Allah Swt. Itu artinya, sesuai dengan janji Allah,
bahwa siapa saja yang menolong (agama) Allah, maka Allah pasti akan menolong
urusan urusannya, serta Allah akan teguhkan
(naikkan) kedudukannya. (QS.
Muhammad: 7). Dengan
demikian, da’i bukan hanya menjadi profesi yang mengahsilkan uang, tetapi lebih
dari itu, seorang pendakwah akan diangkat derajadnya oleh Tuhan, jika ia benar
dalam menyampaikan ajaran-Nya. Wallahu a’lam bi al-shawaab.
*Ketua
Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Dakwah IAIN Walisongo Semarang, Pengajar di Monash Institute Semarang.
- See more at:
http://pelitaonline.com/opinions/virus-para-sofis-menyerang-da%E2%80%99i#.Uk0t1IHw9uY
http://pelitaonline.com/opinions/virus-para-sofis-menyerang-da%E2%80%99i#.Uk0t1IHw9uY

Comments
Post a Comment