Akhir-akhir ini
muncul anekdot politik tentang pemimpin yang menggelitik dan menarik untuk
diperbincangkan. “Untuk sejahtera, Indonesia hanya butuh pemimpin yang tidak
korupsi saja”. Itulah kira-kira ungkapan yang sering kita temui akhir-akhir
ini. Ungkapan itu muncul akibat korupsi yang semakin menjadi-jadi. Ungkapan
yang menunjukkan kejenuhan dan kemarahan publik terhadap pejabatnya. Hampir
setiap hari, pemberitaan mengenai korupsi dan sejenisnya menghiasi media massa,
baik cetak maupun elektronik. Sepertinya, masyarakat Indonesia memang sudah
lelah melihat para pemimpinnya bertindak korup.
Tentu ini sangat
membosankan bagi rakyat. Di tengah kondisi bangsa yang semakin buruk ini,
seharusnya para pejabat (baca: pemimpin) bisa bertindak lebih “sopan” dalam
mengemban amanat rakyat. Korupsi menjadi akar segalanya. Bahkan, maju, mundur
atau stagnasi negeri ini sangat ditentukan korupsi yang terjadi saat ini.
Sehingga, korupsi saat ini disebut telah menjadi budaya. Terakhir, kasus Rudi
Rubiandini yang diduga terlibat korupsi di Satuan Kerja Khusus Pelaksana
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjadi sangat menyentak hati rakyat Indonesia. Sebab,
kasus ini melibatkan orang yang selama ini dianggap bersih dan idealis. Selain
sebagai birokrat, Rudi juga merupakan salah satu guru besar di Institute
Pertanian Bogor (IPB). Bayangkan, seorang yang dianggap bersih dan idealis saja
tidak mampu menolak untuk “memakan” uang rakyat, bagaimana dengan yang lain.
Tentu bisa disimpulkan sendiri.
Belum lagi kasus Hambalang yang sampai saat ini belum
menemukan titik akhir. Banyaknya kasus korupsi yang belum tuntas, ditambah
kasus-kasus yang selalu muncul membuat rakyat frustasi. Kemudian muncullah
kalimat “Pemimpin Indonesia tidur saja, yang penting tidak maling, maka
Indonesia akan mampu sejahtera”. Itulah wujud kekecewaan rakyat terhadap para
pemimpin saat ini. Pemimpin adalah Cermin. Mereka yang seharusnya melayani dan
mengurusi rakyat, bukan bertindak seenaknya sendiri.
Sebenarnya, apa yang salah pada negeri ini. Apakah memang
para pemimpin negeri ini sudah tidak ada lagi yang baik dan betul-betul
memperjuangkan kepentingan rakyat? Tentu ini menjadi pertanyaan kita bersama. Ibnu
Taimiyah pernah berpendapat bahwa penguasa yang dhalim lebih baik daripada
tidak ada pemimpin sama sekali. Bisa jadi, para pemimpin saat ini memang telah
menjadikan kata-kata tersebut sebagai dasar pembenaran bagi tindakannya yang
korup. Padahal, maksud Ibnu Taimiyah bukanlah demikian.
Begitu pentingnya peran seorang pemimpin dalam sebuah
negara, sampai-sampai dibahasakan oleh Ibnu taimiyah secara berlebihan. Oleh
sebab itu, paradigma seorang pemimpin haruslah benar. Bukan semata-mata agar
dirinya baik, tetapi lebih dari itu. Jika paradigma seorang pemimpin benar,
maka itu akan berimplikasi besar pada rakyat. Ya, pemimpin akan menjalankan
tugas dan fungsinya sesuai dengan fitrahya sebagai manusia yang mempunyai tanggung
jawab kemanusiaan.
Pemimpin
Jujur, Rakyat Makmur
Semua pejabat harus menganggap dirinya sebagai pemimpin.
Baik pejabat dari tingkat pusat maupun sampai tingkat RT sekalipun harus
menganggap dirinya sebagai pemimpin. Sekali lagi, pemimpin punya tanggung jawab
yang besar terhadap kemajuan yang dipimpin. Jika sudah demikian, maka besar
kemungkinan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat akan terwujud.
Anekdot yang dibahas di awal sebenarnya merupakan wujud
ketidakpercayaan masyarakat terhadap para pemimpinnya saat ini. Oleh karena
itu, pemimpin harus membersihkan diri dari tuduhan-tuduhan yang selama ini
menggema. Stigma negatif itu harus dibuang jauh-jauh dengan cara “Ojo Korupsi, Ojo Ngapusi (jangan
korupsi, jangan berbohong)”. Ya,
pemimpin jujur. Itulah yang dibutuhkan negeri ini. Kejujuran sesesorang dalam
memipin sebuah negara akan berdampak besar pada segala aktivitas yang
dijalankannya. Sehingga, amanat yang telah diberikan oleh rakyat akan disa
dijalankan dengan optimal dan maksimal. Itulah harapan kecil “orang kecil”
kepada para pejabatnya (baca: pemimpin) saat ini.
Hidup Sederhana
Sikap pemimpin
yang tidak jujur disebabkan beberapa faktor. Satu yang paling berpengaruh
adalah adanya godaan gaya hidup hedonistis. Hidup bermewah-mewahan memang telah
menjadi “penyakit” yang sangat berbahaya bagi para pejabat. Nafsu manusia yang
tidak pernah puas, menjadi boomerang bagi pejabat itu sendiri. Akibatnya,
korupsi menjadi salah satu cara yang paling mudah untuk memenuhi keinginan mereka.
Oleh sebab itu, hidup
dalam kesederhanaan harus mulai disadari oleh para pejabat negara. Sebab,
mereka adalah cermin dan teladan bagi rakyat. Meskipun hidup dalam harta yang
berlimpah, sebaiknya para pejabat tidak perlu memamerkan kekayaannya kepada
publik. Seperti halnya Leimena, menjabat menteri kesehatan 10 kali dari kabinet
Amir Syarifuddin hingga Berhanuddin Harahab, juga menjabat dalam 18 kabinet
yang berbeda mulai Kabinet Syahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora (1966). Ia
tidak menunjukkan hidup yang hedonistis, dalam kesehariannya tetap sederhana.
Bahkan, ia tidak pernah memakai
kendaraan dinas saat pergi diluar tugas. Tidak hanya itu, sehabis pulang
bertugas ia langsung mengganti pakaiannya dengan sarung, tampil seperti rakyat
biasa dan tidak segan-segan bercengkrama dengan mereka.
Para pemegang
amanat rakyat seharusnya meneladani perilaku dan sikap para pendahulu bangsa
kita. Seluruh pejabat, baik di eksekutif, legeslatif, maupun yudikatif sudah
selayaknya menerapkan sikap ini, agar tidak ada lagi sikap ketiadakjujuran.
Para pejabat harus sadar, bahwa mereka adalah pemimpin yang mempunyai
tanggungjawab penuh atas amanah yang diberikan kepada rakyat. Kesederhanaan para
pejabat tidak akan membuat mereka dianggap rendah, tetapi justru akan membuat rakyat
hormat dan merasa dekat. Wallahu a’lam bi al shawab.

Comments
Post a Comment