“Di
atas segalanya, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini
adalah akhir dari segalanya. Barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan
ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini, saya nyatakan ini baru permulaan.
Hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Hari ini
saya nyatakan ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halaman berikutnya
yang akan kita buka dan baca bersama. Tentu untuk kebaikan kita bersama. Ini
pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan
makin bermakna bagi kepentingan kita bersama.”
Itulah petikan pidato Anas Urbaningrum
dalam konferensi pers di Kantor DPP Partai
Demokrat di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2). Anas menyatakan berhenti
sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD), karena dia sudah punya status hukum
sebagai tersangka, meskipun Anas yakin posisi tersangka itu lebih karena faktor
non-hukum, tetapi Mantan aktivis HMI itu punya standar etik pribadi. Tentu saja
jika dipahami lebih dalam, ini adalah bentuk perlawanan Anas kepada pihak-pihak
yang memang menginginkan dirinya mundur dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat. Ia
bahkan menyebut bahwa dirinya adalah “bayi yang sejak awal memang tidak
diharapkan kelahirannya di Demokrat.
Rekayasa?
Anas Urbaningrum tetap kukuh mengaku tak terlibat
dalam dugaan korupsi kasus Hambalang di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Anas yakin
bahwa penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
lebih karena opini yang berdasarkan fitnah tanpa dasar dan kekuatan lain yang
'menekan' dan konspiratif. Tentu saja Anas ingin menegaskan bahwa dirinya hanya
sebagai korban politik kekuasaan, yang memang menginginkan dirinya “pergi”.
Tentu kita masih ingat pengambilalihan
tugas Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Urbaningrum oleh Ketua Majelis Tinggi PD Susilo Bambang Yudhoyono beberapa
waktu lalu. SBY ketika itu, mempersilahkan Anas untuk fokus dalam penyelesaian
kasus hukumnya dengan KPK. Mulai dari situlah, opini akan ditetapkannya Anas
sebagai tersangka sudah terlihat jelas. Bahkan, ikhwal itu terlihat semakin
jelas, ketika para petinggi partai berlambang bintang mercy itu meyakini bahwa
dalam minggu ketiga bulan Februari, Anas akan ditetapkan sebagai tersangka.
Tentu saja publik juga ikut memperkirakan bahwa Anas memang sudah disiapkan
statusnya sebagai tersangka.
Banyak pengamat politik yang juga
mencium adanya perihal itu. Dugaan itu semakin nyata saat Surat perintah penyidikan (Sprindik) Anas bocor kepada publik. KPK sebagai
lembaga yang berwenang dalam hal ini sontak menjadi perbincangan. Berbagai
opini pun keluar dari para pengamat dan masyarakat. Ada yang menganggap KPK
tidak bisa menjaga dokumen rahasia negara, KPK telah dintervensi oleh pihak
tertentu dalam menangani kasus Anas, sehingga dengan sangaja ada pihak yang
membocorkan Sprindik itu. Bahkan, lebih jauh ada anggapan bahwa ada perpecahan
di tubuh KPK, karena memang ketika itu Sprindik yang bocor baru ditandatangani
oleh tiga pimpinan KPK, sedangkan dua lainnya belum.
Halaman
Selanjutnya
Berbagai fakta ganjil terkait penetapan
Anas sebagai tersangka memang sangat jelas dapat dibaca oleh masyarakat luas.
Terlepas dari status tersangka mantan anggota DPR tersebut, yang patut kita
nantikan adalah ada langkah besar yang akan diambil Anas untuk masa depan
politik dan demokrasi kita.
Dari pidato Anas pada konferensi pers
kemarin, ada pernyataan yang memang membuat publik menantikan sesuatu.
Pernyataan bahwa “ini baru permulaan” memang mengundang tanda tanya, sekaligus
menepis anggapan bahwa karier politik Anas telah mati. Dengan nada tegas Anas
mengulang inti dari pembicaraanya itu dengan redaksi yang berbeda-beda. Hal ini
menunjukkan keyakinan Anas bahwa ia akan membuka “buku” yang halaman
selanjutnya berisi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penetapan dirinya
sebagai tersangka. Ini merupakan sebuah permulaan dari langkah-langkah besar
Anas.
Semua pernyataan Anas pada siang itu
langsung mengena pada sasaran. Tidak biasanya yang selalu santai ketika
ditanyai perihal masalah hukum atau partainya. Kali ini, Anas berbicara dengan
tegas dan seolah menantang secara terang-terangan pihak yang memang tidak suka
dengan keberadaannya di PD. Dan pihak yang dimaksud mengarah kepada Ketua
Majelis Tinggi yang juga Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Seperti
yang beritakan, hubungan SBY dengan Anas Urbaningrum memang sejak awal
dikabarkan tidak baik. Hal ini tentu saja berimbas pada kerjasama dan
komunikasi di dalam Partai Demokrat semasa Anas masih menjabat Ketua Umum.
Posisinya sebagai ketua umum partai,
tentu Anas juga sangat tahu dan paham bagaimana konstelasi yang ada dalam tubuh
partai. Banyak pengamat politik yang memprediksi bahwa Anas akan membongkar
kasus-kasus yang lebih besar. Bahkan, SBY-Boediono diperkirakan juga akan
“dibantai” oleh Anas. Kasus Century yang selama ini tak lagi ada kabarnya
barangkali akan “digiatkan” lagi. Sebab, SBY-Boediono disebut-sebut terlibat
dalam kasus yang merugikan negera triliunan tersebut. Hal ini juga ditegaskan
sahabat Anas, Erlangga.
Ia akan
membuat ruang untuk melakukan serangan ke pihak Istana melalui kasus BLBI.
"Kita akan bergerak dan tangkap Boediono. Ini kan permainan saja," katanya kepada Wartawan.
Kini, Anas memang harus membongkar
kekuasaan “firaun” yang telah melemparnya dari politik Indonesia. Ketua Dewan
Pembina Partai Golkar Akbar Tanjung, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo (HT), Ketua MK Mahfud MD, dan Mantan Wapres
Jusuf Kalla secara langsung telah mendukung Anas. Banyaknya dukungan yang
diberikan kepadanya, tentu akan menambah keyakinan Anas dalam merealisasikan janji
langkah besarnya. Bahkan, dukungan semua loyalis di seluruh Indonesia semakin
membuat mantan Ketua PB HMI itu bersemangat dalam membuka halaman buku sejarah
masa depannya. Semoga Anas benar-benar memberikan sesuatu yang berharga untuk
kemajuan bangsa dan negara kini menjadi lebih demokratis. Wallahu a’lam bi
al-shawab.

Comments
Post a Comment