![]() |
| PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah |
Saya punya teman lama seorang pejabat
BUMN, sebut saja Alex namanya. Setelah lebih dari 15 tahun tidak pernah
bertemu, tanpa sengaja pekan lalu berjumpa dalam sebuah acara sosial. Badannya terlihat sehat,
wajahnya ceria, sehingga tampak lebih muda dari usianya. Saya bertanya ringan,
apa resepnya kok terlihat tetap segar dan ceria? Jawabannya sungguh membuat aku
terbelalak. Aku sudah lama keluar dari dunia birokrasi. Aku bukan
sejenisikanleleyang bisa hidup dan berkembang di air kotor dengan makanan yang
juga kotor, jawabnya singkat, santai, namun tajam.
Saya langsung saja menimpali, mungkin
Anda masuk kelompok ikan emas yang airnya mesti jernih, makanannya pun tidak
sembarangan. Dalam perjalanan pulang masih terngiang-ngiang ungkapan “birokrat
ikan lele” sampaisampai saya sampaikan pada Anda obrolan singkat tadi. Benarkah
jajaran birokrat kita sudah separah itu?
Benarkah dunia birokrasi kita
bagaikan kolam lumpur yang hanya cocok untuk ikan lele dan sejenisnya yang
sudah terbiasa dengan lingkungan yang serbakotor dan bau? Bagi mereka yang
sudah lama berkiprah di dunia birokrasi dan politik tentu nuraninya lebih bisa
dan lebih bijak menjawab. Sungguh suatu kesalahan besar membuat generalisasi
birokrat kita busuk dan kotor.
Namun juga sebuah kebohongan dan
kepura-puraan untuk mengatakan jajaran birokrat kita bersih, dedikatif, dan
profesional. Indikatornya mudah sekali ditemukan. Pertama, berapa banyak
berkas-berkas pidana korupsi yang menumpuk dilembaga KPK, kejaksaan, dan
kepolisian. Berdasarkan informasi dari Kantor PPATK, berapa banyak kejanggalan
aliran dana yang masuk pada pejabat negara yang besaran jumlahnya sulit dicerna
oleh nalar sehat, padahal pemiliknya adalah PNS?
Indikator lain adalah pengalaman
sehari-hari ketika kita berurusan dengan birokrasi dan aparat pemerintah,
selalu saja ada pungutan biaya di luar aturan resmi. Saya sendiri sering
memberi ceramah dan bertemu kalangan pengusaha, ada-ada saja cerita bagaimana
pejabat pemberi izin mempersulit prosedur semata karena ingin mendapatkan uang
pelicin, yang bagi saya angkanya fantastis.
Jika kondisi ini berkelanjutan, sudah
pasti memasuki pasar bebasASEAN (MEA) nanti Indonesia tak akan mampu bersaing.
Harga produk mahal, mutu rendah, karena ongkos produksinya sangat tinggi
gara-gara dananya tersedot sebagai uang pelicin. Beberapa tahun lalu saya
pernah ikut suatu penelitian dalam bidang pengadaan barang dan pembangunan
infrastruktur.
Temuannya sudah dapat diduga bahwa
realisasi anggaran untuk pengadaan barang dan pembangunan itu berkisar 60%.
Beberapa kasus bahkan ada yang 40%. Dari segi mutu, mestinya berkisar pada 85%.
Makanya pantas kalau berbagai bangunan proyek tidak sanggup bertahan lama
karena memang kualitasnya di bawah standar. Dengan kebijakan desentralisasi
anggaran, tingkat kebocoran semakin merata ke berbagai pemerintah tingkat dua
seantero Indonesia.
Terjadijurus kongkalikong antara
pemerintah dan lembaga DPRD. Kalangan birokrat sendiri sesungguhnya tahu ada
penyimpangan dan pembusukan yang terjadi di lingkungannya. Tetapi, enggan
berbicara, alih-alih mengungkapkan ke publik dan lembaga pemberantasan korupsi.
Baru setelah pensiun mereka sering keluar pengakuannya.
Itupun secara rahasia dan terbatas
pada lingkungan kecil. Misalnya saja, setiap pengesahan undang-undang atau
penetapan anggaran mesti memerlukan tambahan biaya rapat dengan kalangan DPR/
DPRD dengan angka yang tidak kecil dan sumbernya tertutup. Jadi, birokrat yang
tadinya masuk jenis “ikan emas” terkondisikan untuk berubah menjadi “ikan lele”
yang sanggup bertahan hidup bahkan menikmati (?) air kotor?
Ketika terjadi perseteruan antara
Gubernur DKI Ahok dan DPRD, lagi-lagi, masalah intinya adalah terjadi permainan
anggaran yang tidak logis dan tidak transparan. Ujungnya rakyat yang jadi
korban akibat pemerintah tidak bisa bekerja melayani rakyat dengan semestinya.
Saya kira kasus serupa terjadi di berbagai pemerintah di daerah-daerah lain.
Hanya, itu tidak mengemuka karena
tertutup rapat-rapat. Apakah semua birokrat bagaikan ikan lele? Sudah pasti
tidak. Tetapi, persentasenya berapa dan berapa jumlah kerugian negara serta
rakyat yang ditimbulkan, saya tidak punya jawaban yang akurat. Adalah tugas
parpol, di era demokrasi ini, yang mesti tampil ke depan membersihkan
lingkungan dirinya agar nanti kader-kader yang duduk di lembaga DPR dan
pemerintah tidak masuk kategori ikan lele yang menikmati air keruh dan bau.
Koran Sindo, 13 Maret 2015
(http://nasional.sindonews.com/read/975951/18/birokrat-ikan-lele-1426216766)

Comments
Post a Comment