Rencana pengembangan mobil nasional
(mobnas) dengan menggandeng Proton asal Malaysia terus menuai kecaman.
Kebijakan tersebut tidak layak diteruskan karena hanya merupakan proyek
akal-akalan yang tidak jelas. (sindo/9/2/2015)
Indonesia negara besar, sumber daya
alam melimpah, jumlah penduduk terbesar di Asia, itu merupakan modal potensial
bagi bangsa ini untuk mewujudkan cita-cita memiliki mobil nasional (mobnas). Kita masih ingat ketika Presiden
Jokowi masih menjabat Walikota Solo, dia perrnah bercita-cita membesarkan
Esemka, setelah menjabat gubernur dan sekarang menjadi Presiden, kita tidak
lagi mendengar gaung Esemka, dan cita-cita Presiden pun terkubur dengan rencana
pengembangan mobil nasional (mobnas)
yang digagas PT Adi Perkasa Citra Lestari milik AM Hendropriyono dengan Proton
asal Malaysia.
Menilik lika-liku perjalanan panjang
mobil nasional (mobnas) Indonesia,
berawal pada tahun 1970-an dimana pada waktu itu PT Garmak Motor memproduksi
mobil komersil bermerek Morina (Mobil Rakyat Indonesia) dengan kandungan lokal
hingga 60%. Mobil ini diperuntukan sebagai angkutan masyarakat pedesaan, mobil
ini hanya bertahan 5 tahun. Kemudian pada tahun 1996 Menristek BJ Habibie pada
waktu itu menggagas Maleo, mobil berkapasitas 1.200 cc yang dirancang seharga
Rp.30 jutaan, komponan lokal didesaian hingga diatas 80%, proyek ini menguap
setelah pemerintah meluncurkan mobnas Timor. Dilanjutkan pada tahun 1994 Grup
Bakrie merancang kelahiran mobil produksi dalam negeri, konsep dan pengembangan
selesai tahun 1995 dan prototipe muncul pada tahun 1997, mobil tak jadi
diproduksi karena krisis moneter 1998. Kemudian pada tahun 1997 PT Timor Putra
Nasional milik Hutomo Mandal Putra merealisasi mobnas berkat dukungan Soeharto melalui
Keppres dan inpres, mobil merek Tomor yang sesungguhnya utuh produksi KIA asal
Korea Selatan ini dihentikan oleh keputusan WTO dan IMF. Setelah reformasi pada
tahun 2004 PT Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari melahirkan mobil kecil (Kendaraan
Niaga Cilik Irit Lincah) diharapkan sebagai pengganti bajaj, sayangnya tidak
mendapat rspons baik dari masyarakat. Kemudian di tahun 2011 Wali Kota Solo
Joko Widodo mempopulerkan Esemka, mobil karya siswa-siswa SMK, mobil ini pun
sempat akan di jadikan mobil dinas, Esemka digadang-gadang jadi mobnas, setelah
mengantongi izin dari Kemenhub, Esemka mulai diproduksi banyak dan dipasarkan
di Solo dan sekitarnya, meski begitu pamor Esemka perlahan meredup. Pada tahun
2015 ini Jokowi menyaksikan penandatanganan MoU antara Proton dan PT Adi
Perkasa Citra Lestari saat kunjungan kerja ke Malaysia, nota kesepahaman itu
untuk studi kelayakan tentang pengembangan Proton di Indonesia.(sindo/9/2/2015)
Dari perjalanan panjang mobnas sampai
saat ini yang belum terwujud membuktikan bahwa pemerintah tidak serius dalam
hal kebijakan, sumber daya manusia (SDM) negeri ini ada dan berkualitas tidak
kalah dengan negara lain soal otomotif, tinggal dikembangkan, anak-anak bangsa
ini sudah membuktikan dan menghasilkan mobil Esemka yang populer, seharusnya
Presiden Jokowi bisa mewujudkan mimmpinya ketika menjadi Wali Kota Solo dengan
menjadikan mobil nasional Esemka menjadi kendaraan masyarakat Indonesia karena
saat ini Jokowi sudah jadi Presiden, punya kekuasaan untuk mengeluarkan
kebijakan terkait mobnas.
Wacana pengembangan mobnas dengan
melibatkan perusahaan asal Malaysia Proton merupakan kebijakan yang tidak
tepat, karena tidak ada timbal balik untuk kesejahteraan rakyat, kunjungan
kenegaraan presiden jokowi ke malaysia seharusnya dimanfaatkan untuk mendesak
Malaysia kaitanya dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) agar lebih manusiawi
dalam penempatan maupun perlakuan di negara tersebut, atau kerjasama penjagaan
perbatasan antar dua negara. Sebaiknya rencana kerjasama dengan perusahaan
malaysia proton tidak diteruskan karena masih banyak pekerjaan rumah Pemerintah
Jokowi yang perlu dan segera diselesaikan, kisruh KPK dan Polri perlu tindakan
tegas dari Presiden sehingga tidak berlarut-larutmaslahnya, menyelamatkan
ekonomi karena nilai tukar rupiah terus melemah, belum ada tanda-tanda membaik.
Mobnas adalah kebijakan nasional,
kebijakan negara, bukan kebijakan swasta. Seharusnya pemerintah terlebih dahulu
membuat perencanaan yang matang, jika pemerintah serius mengembangkan mobnas
harus bekerja sama dengan pihak-pihak yang lebih ahli. Anak-anak bangsa juga
sudah bisa membuat mobil, tetapi jika ingin membangun industri mobil dari hulu
sampai hilir ini yang berat, harus dikerjakan dengan perencanaan yang matang
dan Indonesia bisa melakukannya.
Harapan besar masyarakat Indonesia
memiliki mobil nasional sangat besar, jika pemerintah serius, saat ini bisa
meneruskan program mobil nasional Esemka yang telah dirintis di Solo, Presiden
bisa mengembangkan mobil Esemka untuk diproduksi massal dari pada menggandeng
industri negara lain, sumber daya alam sebagai bahan baku sudah ada di dalam
negeri sedangkan sumber daya manusia sebagai pengelola juga sudah ahli, semuanya
bisa dimanfaatkan, dan tentunya jika sudah terwujud adanya mobnas buatan
sendiri, tentunya kita akan bangga sebagai bangsa Indonesia.
*Dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM)
Jateng Pos, 10 Februari 2015
Jateng Pos, 10 Februari 2015

Comments
Post a Comment